Mahasiwa, Cerdas Dalam Memilih!
Oleh : Junhy El Jazeera
Kalau hidup sekedar hidup
Kera dirimba juga hidup
Kalau kerja hanya sekedar kerja
Kerbau disawah juga kerja
(Buya Hamka)
Pergurun Tinggi
sebagai sebuah institusi independen yang merupakan tempat bagi pendidikan para
kaum intelektual. Sesuai dengan isi tri darma perguruan tinggi yaitu
pendidikan, penelitian dan pengabdian. Bisa juga dikatakan sebagai sebuah
miniatur negara. Tapi bagaimana dengan demokrasi di dalam kampus tersebut saat
ini, apakah sudah tepat? Jikalau kampus adalah miniatur Negara maka bisa di
simpulkan bahwa kampus tersebut adalah bentuk dari gambaran Negara tersebut dan
apa yang ada di negara maka kampus adalah tempatnya.
Salah satu
komponen yang penting dalam sebuah miniatur
Negara adalah bagaimana mahasiswanya. Sudahkan kaum intelektualitas
didalamnya menganut tri darma yang telah ditetapkan? Atau malah menyalahi
aturan yang tidak dalam koridor tepat dikatakan sebagai mahasiswa. Mahasiswa
yang katanya cerdas dan berkualitas berpendidikan tinggi dan luas dalam
berfikir.
Mahasiswa
merupakan salah satu agent of change yang bertindak sebagai control social dalam
berprilaku dan bertindak. Dimana dalam berprilaku ia akan memikirkan bagaimana
resiko kedepan, apakah ini baik atau tidak, apakah ini sudah bijak atau keluar
dari koridor kata benar. Pun dalam bertindak ia akan mempertimbangkan bagaimana
seharusnya mahasiswa yang berjalan lurus sesuai kodrat mahasiswanya. Tidak
serta merta main kekerasan lantas tak memikirkan dimana duduk permasalahannya.
Mahasiswa yang bijak adalah kaum yang berfikir cerdas tanpa kekerasan, ketika
ada masalah, maka ia mencari tahu dulu dimana duduk permasalahan kemudian
mencari gagasan untuk memciptakan solusi. Bukan malah menebar fitnah sana-sini
tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya. Telusuri dari mana datang beritanya, cermati
dengan teliti kebenarannya, cari tahu sumber informasinya, dan validkan
kebenarannya.
Allah
berfirman ,
“Dan bunuhlah mereka di mana
saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir
kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar
bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil
Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi
kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang
kafir’. (Al Baqarah :191)
Sebagai mahasiswa yang berpendidikan tentunya kita juga
harus berprilaku dan bertindak sesuai lebel kita. Cerdas dalam memilah mana
kegiatan kebaikkan, mana kegiatan keburukan yang akan merugikan kita juga
merugikan orang lain. Hadir untuk menggagas solusi bukan menjadi masalah yang
tak berhenti. Pun dalam pemilihan BEM KM, kita dituntut untuk cerdas dalam
menggagas ide bukan cerdas adu otot yang tak berarti tapi malah merugikan banyak
pihak yang tak bersalah.
Ironisnya,
“mahasiswa” dalam kampus seringkali tidak memperhatikan hak-hak suaranya kerap
menjadi korban intervensi oleh berbagai pihak yang saling mempunyai
kepentingan, cenderung hanya menerima tanpa tahu dari mana asal informasi yang
ada. Tidak memilah mana informasi yang benar mana informasi yang salah. Semua
diambil tanpa seleksi dan penjaringan kevalidan berita. Sudahkan kita menjadi
mahasiswa yang cerdas dalam berfikir, berpilaku dan bertindak? Sudahkan kita
menjadi kaum intelektualitas yang berkualitas?
Allah berfiman dalam surat cintanya,
“Janganlah orang-orang
mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI
(waly) pemimpin, teman setia, pelindung) dengan meninggalkan orang-orang
mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan
Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti
dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya
kepada Allah kamu kembali.” (QS: Ali Imron : 28)
“Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu mengambil
orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu)
di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang
kafir (orang-orang musyrik) sebagai WALI (pemimpinmu). Dan
bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang
beriman.” (QS:
Al-Ma’aidah : 57)
Jadilah mahasiswa yang cerdas dalam
memilih dan memilah. Dalam bertindak juga berprilaku, jadilah kaum
intelektualitas yang berkualitas dalam memilih, bukan semata mata terintervensi
dalam gagasan apalagi beretorika dalam tindakkan. Buktikan bahwa kita kaum
intelektulitas yang cerdas dan bisa membedakan mana kebenaran mana yang menyesatkan.
“Kusut di ujung
tali, tiliklah ke pangkal tali Lihat pangkal penyebab masalah sebelum
membuat keputusan guna menyelesaikannya. Yang benar tetap benar, yang salah tetap salah”. (Buya Hamka)
Komentar
Posting Komentar