EART DAY : JIKA
BUMI BISA BICARA
Oleh Junhy El
Jazeera
“Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup
untuk tujuh orang serakah”
(Mahatmagandhi)
Bumi akan semakin tua, dia juga
mulai rentan, mulai rapuh, bahkan akan menuai ketidakberdayaan. Namun ego terus
menjadi keserakahan manusia. Seolah kita lupa bahwa Bumi butuh manusia yang
peduli. Bukan semata-mata ingin diperhatikan apalagi ingin diperdulikan. Bukan
juga karna ingin dimanjakan. Namun, Bumi punya hak untuk diwariskan. Kepada
siapa? Kepada anak cucu kita kelak. Melihat masa depan, akankah Bumi pertiwi
tetap sejuk 50-100 tahun lagi? Akankah ia tetap hijau dan menghasilkan oksigen
yang bersih? Akankah keindahan Bumi juga masih ada? Bertanyalah pada hati kita.
Ketika kita berjalan, rentetan
kendaraan akan memenuhi jalan raya. Pabrik-pabrik dengan leluasa mengeluarkan
polusi udara bahkan limbah. Sampah berserakan disetiap jalan. Pohon-pohon hanya
sedikit menghiasi tengah kota. Manusia hanya peduli dengan bagaimana cara memakmurkan
diri sendiri, memperkaya diri, memanjakan kehidupan pribadi, INDIVIDUALIS. Tak
peduli dengan bagaimana esok atau nanti. Sikapnya terus saja acuh. Buang sampah
sembarang. Menebang pohon tanpa sistem tebang pilih. Membuat taman tanpa
perawatan yang intens.Lautan yang indah pun tercemar dengan minyak. Biota laut
merasakan perihnya kehidupan, harus rela bertahan dengan air yang tak layak
bahkan nyaris mati. Bukan lagi nyaris beberapa kawanannya tengah merenggang
nyawa atau bahkan terkapar dipinggir laut. Sekali lagi, manusia hanya
mengekspose berita, memfoto, membagikan, namun tak satu pun diantara mereka
memberikan solusi.INDIVIDUALIS,membuat mata hati menjadi buta.Matanya melihat
namun hatinya buta.
Setiap kali mencoba marah pada
manusia, ternyata itu tidak membuat mereka enggan ataupun resah.Mulai dari air
laut Teluk Balikpapan yang tak kunjung bersih. Banjir bandang kota Samarinda
dan Balikpapan yang menuai korban. Kebakaran hutan Bukit Soeharto yang kerap
kali menimbulkan asap yang tak ramah. Lagi-lagi ego dan keserakahan tak ingin
menepi. Individualis tetap di hati. Hanya demi uang Bumi kami dipertaruhkan.
Tak lagi gusar jika pembakaran hutan bukan atas dasar keamanan manusia tapi
karna politik manusia.
Allah berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ
فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ
عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “ Bepergianlah di bumi
lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka
adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
(QS. Ar-rum : 41-42)
Ketika Bumi marah, manusia sadar
tapi sayang semua telah terlambat. Bak tsunami yang datang meluluhlantakan Aceh
pada tahun 2006 silam.. Semua menjadi rata, lebur dan tak berdaya termasuk
manusia. Wahai manusia, bukalah mata hati. Bumi ini buth dirawat, dengan
ketulusan juga kepedulian. Kita boleh mengambil seluruh isi Bumi namun ego dan
keserakahan menjadikan kita lupa. Lupa bahwa Bumi pertiwi bukan milik pribadi.
Tapi ini milik kita, anak kita, juga cucu kita dimasa mendatang. Wariskanlah
Bumi pertiwi yang indah sejuk, dan menyejukan. Kaya dengan hasil alam yang
terolah dengan baik. Mampu menjadikan Bumi pertiwi Negara adidaya yang maju
karna kekayaan alamnya. Karna manusia yang cerdas mengolahnya. Manusia yang
mampu mejaga keseimbangan Bumi pertiwi.
Allah berfirman
lagi dalam surat cinta-Nya:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ
خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ وَهُوَ الَّذِي
يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا
ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ
مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا
يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah
(diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh
harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat
kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai
pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga
apabila angina itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang
tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian kami tumbuhkan dengan
hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang
telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik,
tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan, dan tanah yang buruk,
tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang
tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur”.
(QS. Al A’raf : 56-58).
Allah pun menghimpun manusia
untuk menjaga keseimbangan Bumi. Allah melarang manusia untuk berbuat
kerusakan, baik di darat, di laut, di udara bahkan dimana saja. Karena
kerusakan yang disebabkan ulah manusia akan membahayakan pada tata kehidupan
manusia sendiri, seperti kerusakan tata lingkungan alam, pencemaran udara, dan
bencana-bencana alam lainnya. Pada surat tersebut Allah menyuruh untuk berdo’a
kepada Allah dan bersyukur atas karunia yang diberikan kepadanya, sehingga alam
yang telah disediakan Allah itu mendatangkan rahmat dan manfaat serta nikmat
yang besar bagi kehidupan manusia dalam rangka beribadah kepada Allah SWT,
sehingga manusia menjadi makhluk yang muhsinin.
Allah menunjukkan kasih
sayang-Nya kepada umat manusia yang meniupkan angin sehingga turun hujan.
Begitu pula Allah SWT menjadikan tanah yang dahulunya kering dan tandus menjadi
subur sebab mendapat rahmat dari Allah itu sehingga tumbuh-tumbuhan jadi hidup
subur dan berbuah, telur-telur ikan yang menempel di tanah bisa menetas menjadi
ikan-ikan besar yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Begitu Allah
mengibaratkan besok pada hari kiamat Allah akan menghidupkan manusia kembali
seperti hidupnya tumbuh-tumbuhan ketika turun hujan.
Semua pilihan ada ditang kita masing-masing.
Apakah kita menjadi manusia muhsinin yaitu manusia yang senantiasa berbuat kebaikan dan syakirin
yaitu selalu bersyukur keda Allah SWT. Atau menjadi bagian yang merusak bumi dengan ego dan keserakahan
pribadi. Yang kelak kita tak punya jawaban atas perbuatan keserakahan. Maka
azab Allah siap didatangkan. Jangan salahkan Bumi tapi muhasabahlah diri. Sebab
ia tahu bagaimana sejatinya manusia harus bersikap dan bertindak.
Bumiku indah, sejak
ia diciptakan. Bumiku sejuk, sejak ia tak dirusakan. Bumiku kaya, sejak ia tak serakah. Bumiku subur, sejak ia
tak egois. Namun semua sirna sejak manusia egois dan serakah. Yang tersisa
warisan gersang nan terabaikan. Tapi semua berbeda jika manusia hari ini SADAR bahwa Bumi bukanlah tempat ego
dan keserakahan menjunglai. Tapi ia tempat kebermanfatan untuk umat manusia
dengan terus dijaga keseimbangannya.
Komentar
Posting Komentar